• PESONA AIR TERJUN BARUTUNGNGE

    Sala satu alternatif destinasi wisata alam di kabupaten Barru adalah wisata alam air terjun Baruttungnge

  • BERNUANSA ALAM YANG SEJUK

    Kelebihan wisata Alam Baruttungnge terletak di kawasan desa dengan pemandangan sawah yang memanjakan mata

  • AIR TERJUN DARI MATA AIR PEGUNUNGAN DESA LALABATA

    Memberikan nuansa kesegaran alami dengan air yang berasal dari mata air gunung Desa Lalabata

BUMDES SIPURIO DESA LALABATA

SELAMAT DATANG DI HALAMAN WEBSITE RESMI WISATA ALAM BARUTTUNGNGE BUMDesa LALABATA

Senin, 27 September 2021

Masukan Masyarakat Perlu untuk Kolaborasi Peningkatan Area Wisata




Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul selama Covid-19 mewabah. Namun kini, pariwisata mulai meningkat perlahan yang berpengaruh bagi ekonomi warga sekitar area wisata. Banyaknya penyesuaian dengan kondisi pandemi, masukan dari masyarakat perlu ditampung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk bisa berkolaborasi dengan banyak pihak.

Hal itu disampaikan Deputi bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Diah Natalisa saat acara Standar Pelayanan dan Panduan Pemberian Pelayanan Pasca-pandemi Covid-19 pada Sektor Pariwisata, secara virtual, Rabu (22/09). Diah mendorong Kemenparekraf bisa menyelenggarakan Forum Konsultasi Publik (FKP), terutama dalam kondisi saat ini.

“Dengan Forum Konsultasi Publik, kita dapat membuka jalan untuk dapat berkolaborasi dengan banyak pihak, dan tentunya dapat memantik lahirnya inovasi dan kreasi baru dalam pelayanan di sektor kepariwisataan,” ujar Diah. Diah menegaskan, masukan dari masyarakat atau pemangku kepentingan terkait merupakan perbaikan yang sangat bernilai.

Saat ini, akses informasi tersedia sangat luas bahkan seakan tanpa batas. Kondisi tersebut bisa digunakan secara maksimal untuk diseminasi informasi pelayanan publik di bidang pariwisata. Melalui sistem informasi, pemerintah tidak hanya bisa menyampaikan informasi, tetapi juga promosi berbagai layanan pariwisata yang tersedia di seluruh negeri.

Informasi mengenai lokasi wisata juga harus menyertakan standar pelaksanaan higienitas pada area, sarana, dan prasarana yang digunakan bersama. Pengelola wisata juga harus menyertakan standar untuk penerapan jaga jarak, pembatasan kuota wisatawan, serta penegakkan disiplin penerapan protokol kesehatan.

“Kami mendorong agar pengelola dapat memiliki SOP yang mengacu pada panduan CHSE pada daya tarik wisata,” ungkap Diah. Perlu diketahui, CHSE adalah program Kemenparekraf berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Pengelola wisata juga harus menetapkan ketentuan lain sesuai anjuran Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah terkait, dan Satuan Tugas Covid-19 Daerah. “Juga menyiapkan SOP untuk menangani kondisi darurat kesehatan dan berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tambah Diah.

Diah juga menekankan terkait profesionalisme SDM yang harus memahami pola hidup budaya sehat atau PHBS. Mitra terkait pengelolaan wisata juga harus memahami protokol kesehatan dan menerapkannya dengan disiplin.

Sebagai panduan, Kemenparekraf bisa mendorong agar penyelenggara layanan wisata bisa melatih karyawan, pemandu wisata, atau masyarakat sekitar untuk mempersiapkan dan melaksanakan SOP sebelum area wisata dibuka. Uji coba dan simulasi wisatawan juga sebaiknya dilakukan secara bertahap. Menurut Diah, jika diperlukan bisa juga membentuk dan melatih tim khusus penanganan kondisi darurat kesehatan, keselamatan, dan keamanan.

Karena berbagai pembatasan, Diah menyarankan agar pengelola wisata melakukan beragam inovasi, termasuk menggunakan pembayaran non-tunai serta menggunakan aplikasi PeduliLindungi. “Dalam hal ini, kita juga dapat mendorong agar penyelenggara layanan pariwisata dapat memiliki mekanisme pengembalian dana bagi wisatawan yang tidak diperkenankan masuk karena alasan kesehatan dan keamanan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19,” tutup Diah. (don/HUMAS MENPANRB)

Perbaiki Sektor Pariwisata di Masa Pandemi COVID-19, Menkes Tekankan Protokol Kesehatan

 



Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Rapat Koordinasi Nasional bahas amplifikasi kebijikan, program serta langkah rekativasi dan pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berdampak akibat pandemi COVID-19 tanggal 26-28 November 2020 di Bali. Dalam kesempatan tersebut Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto menekankan kepada pihak di sektor pariwisata untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan.


Menkes Terawan mengatakan kegiatan ekonomi perlu dijalankan mengingat masyarakat perlu mendapat kesempatan untuk berusaha. Namun protokol kesehatan harus tetap diutamakan.

Hal itu mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Terdiri dari dua bagian utama dalam Keputusan Menteri Tersebut, antara lain pertama prinsip umum protokol kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian COVID-19, kedua protokol kesehatan di 12 tempat dan fasilitas umum yang juga dilengkapi upaya yang harus dilakukan bila menemukan kasus COVID-19.

''Dalam pengembangan wisata yang aman dan sehat maka perlu mendapat perhatian dan perlu diberdayakan dalam penerapan protokol kesehatan. Di lokasi wisata perlu perhatian apakah itu wisata alam, wisata non alam, wisata kuliner, atau wisata budaya, atau kombinasi dari beberapa wisata,'' kata Menkes Terawan saat menjadi Narasumber pada Rakornas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Terawan menyebut potensi rawan yang harus diperhatikan pada tempat wisata adalah mulai dari area parkir, loket tiket, pintu masuk objek yang diminati, tempat ibadah, kamar mandi atau toilet, kantin atau rumah makan, dan pintu keluar.

Selain itu juga harus diperhatikan mengenai luas tempat kegiatan, jumlah tamu, kelompok rentan, lama kegiatan, lokasi kegiatan apakah indoor atau outdoor, karakteristik kegiatan seperti berupa hiburan, menyanyi, khotbah, ceramah, dan aktivitas fisik lainnya harus di dipilah-pilah.

Perlu diperhatikan juga terkait aspek akomodasi hotel, transportasi restoran, tempat belanja, oleh-oleh dan di lokasi destinasi wisata itu sendiri yang tentunya berkaitan erat dengan tempat wisata.

Protokol kesehatan yang harus diterapkan oleh pengelola lokasi wisata adalah melakukan pembersihan dengan desinfeksi secara berkala, terutama pada area sarana dan peralatan yang digunakan secara bersama-sama, dan juga fasilitas umum lainnya.

Menkes Terawan mencontohkan salah satu protokol kesehatan bagi pekerja di lokasi wisata yaitu memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum berangkat bekerja, sedangkan salah satu protokol kesehatan yang harus diterapkan oleh pengunjung adalah memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum melakukan kunjungan ke lokasi wisata.

''Untuk bisa menerapkan dengan baik pada dasarnya harus menerapkan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan serta membiasakan pola hidup bersih sehat,'' imbuh Menkes Terawan.

Ia menyimpulkan bahwa di era pandemi COVID-19 sektor pariwisata harus beradaptasi dengan kebiasaan baru atau new normal, seperti modifikasi cara kerja, implementasi yang minim sentuhan atau touchless, perbaikan sanitasi sesuai protokol kesehatan, pemeriksaan dan sertifikasi kesehatan bagi pekerja sektor pariwisata, akomodasi makanan minuman bagi keamanan dan kesehatan pengunjung, dan yang penting adalah share responsibility di antara pelaku bisnis dan pemerintah, dalam hal ini baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap kepariwisataan nasional sehingga diperlukan langkah-langkah strategis dalam mempercepat pemulihannya.

''Rakornas dilangsungkan untuk mengkonsolidasikan stakeholder kementerian/lembaga serta pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mempercepat atau mengakselerasi pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,'' kata Wishnutama.

Rakornas ini diharapkan menjadi wadah koordinasi dan sinkronisasi strategi program serta kegiatan seluruh stakeholder dalam rangka menghasilkan kebijakan yang bisa mempercepat akselerasi reaktivasi dan pemulihan sektor parekraf.

Akan dilakukan perjanjian kerjasama dengan sejumlah kementerian/lembaga dalam upaya mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut secara virtual yaitu kepala bappenas, wakil menteri keuangan, dan menteri perhubungan, menteri perdagangan, menteri perindustrian, wakil menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, wakil gubernur bali, sejumlah kepala daerah, serta perwakilan industri dan asosiasi.

7 Tips Wisata ke Air Terjun Saat Musim Hujan, Waspada Banjir Bandang

 


Wisata air terjun merupahkan wisata yang sangat menenangkan perasaan hilangkan stress serta memanjakan mata menjadi aktivitas keluarga yang sangat baik untuk kuality time bersama keluarga, sahabat, serta pasangan hidup .

Berikut tips Berwisata Air terjun :

  1. Persiapkan fisik agar tidak sakit. ...
  2. Perhatikan cuaca. ...
  3. Tinggalkan air terjun jika hujan mulai turun. ...
  4. Hindari lokasi air terjun saat hujan tiba. ...
  5. Jangan duduk di tepi aliran sungai saat hujan tiba. ...
  6. Bungkus barang bawaan. ...
  7. Boleh main air, tapi perhatikan cuaca.

Apa keuntungan adanya Wisata Alam?

 



Salah satu keunggulan wisata alam yang banyak ditemukan dan dirasakan adalah meningkatkan kemampuan diri untuk lebih kreatif. Hal ini tentunya sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-sehari, dimana terkadang kita dituntut untuk dapat berpikir secara cepat dan tepat.

Minggu, 26 September 2021

BUMDes SIPURIO DESA LALABATA


 Filosopi logo Bumdesa Lalabata

Lingkaran melambangkan Integritas, Persatuan, Dan Komitmen, Warnah Hijau Melambangkan Kesuburan Alam Desa Lalabata, Padi Melambangkan Kearifan Lokal dan Potensi Alam desa Lalabata sesui Filosopinya Semakin Berisi Semakin Menunduk, Kapas Melambangkan Kesejahteraan desa Lalabata, Matahari terbit menandakan sebuah harapan , Garis Yang  Terarsil mengikuti lekuk Lingkaran menandakan Alam Yang Memiliki Potensi SDA Yang Bisa Di olah nilai ekonomisnya, Dedaunan menandakan potensi Pertanian dan perkebuanan desa  Lalabata, Air yang mengalir berwarna hijau menandakan kesetaraan dalam memutuskan arah kebijakan dalam wadah perusahaan bumdes dan merupakan potensi wisata desa lalabata, 4 runcing di atas menandakan 4 kerajaan yang menyatuh dalam komitmen kemajuan dan kesejahteraan dimana letak wilayah bumdes sipurio desa lalabata terletak di desa dalam wilayah pemerintahan kabupaten Barru

BERITA

TENTANG KAMI